TEMU BUDAYA NASIONAL 2010 “Seni Menjunjung Alam”

logo TBN up

LOGO TBN

Taman Budaya Riau dalam waktu ini tepatnya pada tanggal 20 sampai dengan 24 Juli 2010 mendatang, akan menjadi tuan rumah Temu Budaya Nasional. Salah satu kegiatan pertemuan budaya terbesar yang diikuti oleh seluruh Taman Budaya dari 33 provinsi di Indonesia. Bapak Pulsiamitra, SE selaku kepala Taman Budaya Riau menuturkan bahwa Taman Budaya atau apa pun namanya merupakan lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas keberadaan dan perkembangan kesenian setempat. Untuk itu, institusi ini senantiasa dituntut untuk melakukan usaha-usaha pembinaan dan pengembangan kesenian. Pada dasarnya pembinaan dan pengembangan seni ialah suatu proses pelestarian, pemanfaatan dan pewarisan suatu keberadaan seni dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam pembinaan dan pengembangan kesenian terdapat rangkaian proses penyelamatan budaya dari kepunahan yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kebudayaan dan kesenian tersebut dimanfaatkan sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak dalam setiap masyarakat/kelompoknya. ’Pedoman dalam bersikap’ ini hendaknya dimaknai secara luas, mencakup segala sendi-sendi kehidupan, termasuk didalamnya dalam mengarifi alam sekitarnya. Terlebih lagi seni memang tidak jauh dari lingkungan alam yang melahirkannya, dan kemudian seni mengambil mata air kreatifitas dari alam. Begitu banyak sumbangan alam terhadap kehidupan seni, sehingga kebudayaan dan kesenian tidak bisa dipisahkan dengan alam. Maka ketika alam ini sakit dan dizalimi, seyogyanya seni yang pertama kali ”pasang badan” membela dan merawat alam. Di tengah hiruk pikuk pemanasan global yang menjadi sentral isu dewasa ini, yang ternyata membuat kita terperangah terhadap kondisi bumi yang kita tempati, nampaknya seni harus bersikap membela bumi yang sakit, meskipun terlambat. Seni yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, bahkan berhubungan langsung dengan jiwa, tentu saja memiliki peran besar menyadarkan manusia dalam bersikap terhadap bumi yang kita huni. Maka tidaklah berlebihan jika Temu Budaya Nasional 2010 ini mengangkat tema penyadaran ”Seni Menjunjung Alam”. Barangkali ini menjadi sumbangan seni terhadap bumi yang sama-sama kita cintai, demikian tutur ”bang Pul” (panggilan akrab beliau dikalangan seniman) ketika ditemui di ruang kerja beliau.

Pulsiamitra, SE

Pulsiamitra, SE

Kegiatan Temu Budaya Nasional 2010 yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Riau ini bertujuan antara lain untuk :

  • Meningkatkan hubungan kerjasama sesama Taman Budaya Se-Indonesia dalam rangka meningkatkan pembinaan dan pengembangan kesenian.
  • Meningkatkan hubungan seniman, pelaku seni masing-masing daerah guna memacu kreatifitas dan produktifitas seni.
  • Ikut memberikan kontribusi terhadap isu-isu yang berkembang dewasa ini menyangkut pelestarian alam.
  • Memberdayakan peran aktif seniman, pelaku seni dalam usaha menjaga kelesatarian alam.
  • Membuka ruang kreatifitas pelaku seni untuk mengangkat tema-tema baru yang beragam disekitar kehidupan kita.
  • Menyadarkan masyarakat terhadap kondisi alam dewasa ini melalui kesenian.

Berikut adalah hal – hal mengenai seputar Temu Budaya yang dilaksanakan pada hari Selasa sampai dengan sabtu tanggal 20 sampai dengan 24 Juli 2010.

BENTUK KEGIATAN

Bentuk kegiatan Temu Budaya Nasional berupa pergelaran seni , pameran, pembacaan puisi dan antologi dari masing-masing provinsi Se-Indonesia. Disamping itu pula akan ditampilkan berbagai seni pertunjukan tradisi daerah Riau, kuliner dan pameran cenderamata dengan mengangkat tema besar ” Seni Menjunjung Alam”

Materi kegiatan Temu Budaya Nasional ”Seni Menjunjung Alam” , meliputi :

PERGELARAN SENI

Pergelaran ini bersifat non lomba, dengan diikuti oleh seluruh peserta Temu Budaya Nasional yang terdiri dari utusan masing-masing provinsi.

Bentuk Penyajian

Bentuk penyajian bebas dengan mengangkat tema alam. Garapan kekinian dengan berpijak pada tradisi. Materi pergelaran bisa berupa paket gabungan antara tari, musik dan teater atau menampilkan satu cabang seni tertentu. Durasi 20 – 40 menit. Iringan Dengan menggunakan musik langsung hidup / tidak menggunakan kaset dengan peralatan disiapkan masing – masing.

Tempat Pertunjukan / Penampilan Di gedung Teater Tertutup Anjung Seni Idrus Tintin dalam bentuk stage proscenium ( uk. 18 x 12 m ), tata suara dan tata lampu standar.

Keterangan Pengiriman data pergelaran seni paling lambat tanggal 5 Juli 2010.

PAMERAN SENI RUPA

Adalah Pemeran karya – karya seni yang diikuti setiap peserta Temu Budaya Nasional yang merupakan perwakilan masing-masing provinsi dengan ketentuan :

  • Sifat pameran adalah pameran biasa, tidak diadakan penilaian, kurasi akan dilakukan secara umum sebagai bagian dari usaha meningkatkan perkembangan kualitas seni rupa di Indonesia.
  • Peserta Pameran adalah seniman rupa yang ditunjuk / mewakili Taman Budaya setempat.
  • Materi Pameran berupa karya seni lukis.
  • Jumlah Karya Minimal 2 (dua) karya dan Maksimal 4 (empat) karya.
  • Ukuran Karya Minimal 60 x 70 cm x 1 cm (frame/bingkai) dan Maksimal 75 x 125 cm x 1 cm (frame/bingkai)
  • Tahun pembuatan dari tahun 2007 s/d 2010.
  • Karya seni rupa yang lain (patung, kriya kayu, kriya logam) ukuran maksimal tinggi 100 cm.
  • Panitia tidak melakukan seleksi terhadap karya-karya yang akan dipamerkan, kecuali pada hal-hal khusus yang dianggap SARA.
  • Pengepakan, pengiriman dan pengembalian karya merupakan tanggung jawab masing-masing kontingen.
  • Peserta pameran harap menyerahkan, Data Karya, Biodata, foto karya, foto diri 2 buah ukuran 4 x 6 cm, selambat-lambatnya tanggal 5 Juli 2010 sudah diterima panitia, apabila terlambat dengan sangat menyesal tidak tercantum dalam buku catalog.
  • Karya diterima oleh Panitia tanggal 15 Juli 2010.

.

BACA PUISI DAN ANTOLOGI

Antologi Sastra Dalam rangka pemetaan karya sastra khususnya puisi, panita akan menerbitkan antologi puisi. Adapun ketentuan sbb :

  • Tiap propinsi mengirimkan 3 (tiga) buah puisi karya penyair setempat.
  • Karya puisi yang masuk ke panitia akan dikurasi oleh tim yang terdiri dari sastrawan nasional yang dibentuk oleh panita.

Baca Puisi Baca puisi diikuti oleh masing-masing peserta dengan ketentuan sbb :

  • Puisi yang bacakan merupakan karya yang masuk dalam antologi puisi di atas.
  • Pembaca puisi dimaksud adalah penyair penciptanya.
  • Durasi bebas - Materi dikirim paling lambat tanggal 5 Juli 2010.
  • Setiap propinsi diharapkan dapat mengirimkan karya 2 orang penyair.

.

DIALOG DAN WORKSHOP SENI

  • Dialog Seni Dialog seni mengetengahkan perbincangan seputar perkembangan seni (masing-masing percabangan seni) dengan nara sumber para pakar / ahli seni / kritikus yang telah memiliki pengalaman baik tingkat nasional maupun internasional.
  • Workshop Seni Workshop seni akan diisi dengan materi pelatihan pengelolaan seni pertunjukan dan berbagai penunjangnya.
  • Peserta adalah Semua peserta Temu Budaya Nasional,  Seniman / pekerja seni / guru kesenian / pers dari Propinsi Riau ( berdasarkan undangan panita )

.

TEMU KEPALA TAMAN BUDAYA SE-INDONESIA

  • Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Kepala Taman Budaya Se-Indonesia, Direktur Kesenian, Dirjen Nilai Seni Budaya dan Film, dan instansi terkait
  • Kegiatan ini akan dikoordinasikan oleh Direktorat Kesenian, Dirjen NSBF, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI.

.

PERTUNJUKAN SENI TRADISI DAERAH RIAU DAN MASYARAKAT SUKU PEDALAMAN

Pertunjukan Seni Tradisi Daerah Riau dan Masyarakat Suku Pedalaman merupakan kegiatan pendamping Temu Budaya Nasional. Kegiatan ini menyajikan berbagai bentuk seni pertunjukan unggulan Kabupaten/Kota Se-Riau dan berbagai atraksi budaya masyarakat pedalaman yang ada di wilayah Riau. Peserta Kabupaten/Kota Se-Riau Masyarakat suku – suku pedalaman yang ada di wilayah Riau dengan koordinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Riau. Materi Bebas (menampilkan berbagai kekayaan seni tradisi unggulan dan atraksi budaya suku – suku pedalaman). Durasi 20 – 40 menit. Tempat Pertunjukan / Penampilan Teater Terbuka, halaman dan tempat lain di lingkungan Taman Budaya Riau.

.

PAMERAN KULINER DAN CENDERAMATA

Pameran kuliner dan cenderamata termasuk kegiatan pendamping Temu Budaya Nasional. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengenalkan berbagai kekayaan kuliner dan cenderamata Riau ke khalayak umum terutama peserta Temu Budaya Nasional. Pameran Kuliner dan Cenderamata akan menampilkan berbagai keragaman kuliner melayu dan kerajinan khas Riau. Peserta adalah Home Industri dan Pengrajin di Wilayah Riau. Materi adalah Berbagai bentuk kuliner dan cenderamata Waktu pelaksanan dari 20 s/d 24 Juli 2010. Tempat pelaksanaana adalah Pekarangan dan Halaman Taman Budaya Riau.

Hari Sandra Hasan

Dir. MMI

Sementara itu Direktur Malay Music Institute Hari Sandra Hasan atau yang akrab di sapa bang Hari ini, saat ditemui diruang kerjanya, menyambut baik pelaksanaan event ini. “Sebagai salah satu lembaga buadaya yang khas dalam bidang musik, tentunya kita sangat mendukung pelaksanaan event ini, malah jika memungkinkan MMI pun akan ambil bagian dalam kegiatan Temu Budaya Nasional 2010 mendatang” demikian ujar bang Hari. (mmi1)

07

06 2010

8th RIAU HITAM – PUTIH INTERNATIONAL WORLD MUSIC FESTIVAL 2010

BI–ANNUAL WORKSHOP CREATIVITY ON ETHNIC MUSIC

Tema Music Camp For The Young Generation yang diusung Malay Music Institute (MMI red) tahun ini adalah kembali kepada tujuan awal pelaksanaan event worldmusic ini. Bukan  berarti tujuan pelaksanaan event ini sudah melenceng dan cita – cita awal, namun hanya untuk menyegarkan kemabli semangat dan cita – cita awal tersebut yakni menjadikan generasi muda sebagai ujung tombak kelestarian dan perkembanngan musik Melayu kedepan. Hal ini dirasa sangat perlu untuk lebih menguatkan cita – cita awal berdirinya MMI yakni turut berperan aktif melestarikan dan mengembangkan musik Melayu memanfaatkan generasi muda untuk mau lebih mengenal, mendalami dan memahami musik tradisi mereka sendiri.

Salah satu agenda utama dari music camp tersebut adalah, MMI akan melaksanakan kegiatan workshop musik yang bertajuk “BI–ANNUAL WORKSHOP CREATIVITY ON ETHNIC MUSIC” dengan pembicara Prof. DIETER MACK dari JERMAN

Berikut adalah profil  Prof. DIETER MACK yang kami kutip dari www.composers21.com/compdocs/mackd.htm

Prof. DIETER MACK Mack, Dieter (b. August 25, 1954, Speyer, Rheinland-Pfalz). German composer of mostly orchestral, chamber, choral, and piano works that have been performed throughout Asia, Europe and North America; he is also active as a musicologist.

Prof. Mack studied composition with Klaus Huber and Brian Ferneyhough, music theory with Peter Förtig and piano with Rosa Sabater at the Staatliche Hochschule für Musik in Freiburg im Breisgau from 1975–80.

His honors include a scholarship to work at the Experimentalstudio of the Heinrich-Strobel-Stiftung in Freiburg im Breisgau (1980–81). His music has been performed at many festivals, including once at the ISCM World New Music Festival (1988, Hong Kong), and a portrait concert was given at the Arts Summit-IV in Jakarta (2004). Portraits of his life and work were also featured in the Neue Zeitschrift für Musik (2004) and the magazine ZEIT (2005) and he is the subject of the book Wenn A ist, ist ADer Komponist Dieter Mack (2008, edited by Torsten Möller, PFAU-Verlag).

As a musicologist, Prof. Mack has a deep interest in the music of Southeast Asia, most of all the gamelan, about which he has written extensively, including the books Sejarah Musik jilid IIIIV (1995, PML), Pendidikan MusikAntara Harapan dan Realitas (1995, P4ST-UPI), Musik Kontemporer (1997, MSPI, art-line), Musik aus Bali und Westjava (2002, Lugert Verlag), Länderheft Bali (2003, Lugert Verlag), and Zeitgenössische Musik in Indonesien. Zwischen lokalen Traditionen, nationalen Verpflichtungen und internationalen Einflüssen (2004, Georg Olms Verlag). He has had various studies in Bali, southern India and Japan since 1978, notably one year in Bali (1981–82). He founded a Balinese gamelan at the Staatliche Hochschule für Musik in Freiburg im Breisgau in 1982 and toured Southeast Asia in 1988, on a grant from the Goethe-Institut. He later served as co-leader of the CATUR YUGA Project in 1997–98, a cultural exchange between Bali, Basel and Freiburg im Breisgau.

He is also active in other positions. He worked as an assistant at the Experimentalstudio of the Heinrich-Strobel-Stiftung from 1977–81 and has been a member of ExVoCo (EXpanded VOice COmpany) in Stuttgart since 1980. He has served as a member of the advisory board of the Goethe-Institut since 2008.

He has lectured on Balinese music, improvisation and music theory at music academies in Basel, Freiburg im Breisgau and Trossingen since 1980 and at the Universität Freiburg im Breisgau. He taught as a professor of ear training and music theory at the Staatliche Hochschule für Musik in Freiburg im Breisgau from 1986–2003 and has taught as Professor für Komposition at the Musikhochschule Lübeck since 2003, where he has also served as vice-president since 2008. In Indonesia, he gave lectures on composition, ethnomusicology and music education from 1989–91, in 1996–97 and from 1997–2001. He was also a long-term guest lecturer at UPI in Bandung from 1992–95, on a scholarship from the Deutscher Akademischer Austauschdienst, and has served as a consultant in a research project there since 1997, on a grant from the Ford Foundation. Moreover, he has taught as a guest professor in post-graduate composition at the art academy STSI Surakarta since 1999. In addition, he taught as composer-in-residence at the School of Music in Wellington in 1991, gave masterclasses in New Zealand in 2004, in the USA in 2006–07 and in China in 2007–08 and taught composition at Darmstadt in 2006.

The Bärenreiter-Verlag publishes some of his earlier music, but his recent works are self-published.

COMPLETE LIST OF WORKS

ORCHESTRAL: Angin, small orchestra (13 winds, 10 brass, 3 percussion), 1988; Catur, 10 Balinese flutes, 14 percussion, gamelan, 1997; Crosscurrents, gamelan, 2001; Vuh, percussion, small orchestra (winds, brass, 3 percussion), 2001; Tunjuk, large orchestra, 2006; Pamungkah, 2006; Kammermusik V, small orchestra (27 players), 2007; Brassology, small orchestra (4 French horns, 4 trumpets, 3 trombones, bass trombone, tuba, 2 percussion), 2008

CHAMBER MUSIC: Kebyar, flute, piano, 1980; Lalangan, piano, percussion, 1983; Preret, oboe, piano, 1983; Karya, any ensemble, 1983–84 (also realizations as Karya 97; Karya 2000, 12 flutes [any 3 + piccolo], 8 percussion, 2000); Taro, flute (+ piccolo), bass clarinet, 2 pianos, percussion, 1987; Kammermusik I, 2 flutes (both + piccolo), 2 clarinets (both + bass clarinet), 2 tenor saxophones, 2 trombones, 2 percussion, 1988; Wantilan I, alto flute, percussion, 1989 (also version as Wantilan II, voice, gamelan); Bulan, English horn, bass clarinet, 1990; Telu, percussion, 1990; Kammermusik II, flute (+ piccolo, alto flute), oboe (+ English horn), bass clarinet (+ clarinet), violin, viola, cello, piano, percussion, 1991; Rafting and Beyond, 2 pianos, 2 percussion, 1991; Trio Variations, flute (+ piccolo, alto flute), piano, percussion, 1991; Duett, flute (+ piccolo), organ, 1995; Segara Variationen, 4 percussion, 1998; Quartett No. 1, 2 flutes, piano, percussion, 1999; Ritsch-Ratsch-Rutsch, French horn, trombone, tuba, percussion, 1999; Temu, recorder (+ synthesizers), percussion, tape, 2001; Selisih, alto saxophone, baritone saxophone, 2003; Kammermusik III, flute (+ piccolo), oboe (+ English horn), bass clarinet (+ clarinet), alto saxophone (+ soprano saxophone), violin, viola, cello, double bass, piano, percussion, 2003–04; Trio II, heckelphone, piano, percussion, 2004; Quar-Quintett, oboe (+ English horn), double bass, piano (2 players), percussion, tape (inside piano), 2004; Trio III, flute, alto saxophone, piano, 2004; Kammermusik IV (vocalise), high soprano, 2 flutes (both + piccolo, 2nd + alto flute, bass flute), 2 oboes (both + English horn), 2 bass clarinets (both + A-clarinet, 1st + E-flat clarinet), bassoon, French horn, harp, violin, viola, 2 celli, double bass, piano (+ percussion), percussion, 2004–05 (piano doubling may be performed by a second percussionist); Gado-Gado, oboe, bassoon, double bass, harpsichord, percussion, 2005; Trio IV, flute, piano, percussion, 2006; Trio V, flute, harp, cello, 2006; Ramai, flute, oboe, bass clarinet, harp, double bass, piano, percussion, 2007; Jonico, 2 percussion, 2008; Pulsar, organ, percussion, 2008

CHORAL: Cina, 3 mixed voices (+ metal tube, Korean drum, woodblock), 1983; Segara, 6 mixed voices, 4 percussion, 1986; Balungan, 4 mixed voices, 1993; Rieselfeld, mixed chorus (minimum 24 voices), 6 tom-toms, any 6 instruments ad libitum, 1996–97; Voice and Percussion, female chorus (minimum 24 voices), 2 percussion, 2000

VOCAL: Wantilan II, voice, gamelan, 1989 (version of Wantilan I); Kreuzungen, soprano, 8 percussion, 1991

PIANO: Studie II, 1981; Früchte, 2 pianos, 1983; Château, 1988; Surya, 1990; Basah, 1992; ChediPiano Piece No. 5, 2001

ORGAN: Orgelzyklus, organ, tape, 1984–87 (each of its three sections may be performed separately: Mau; Pusat; M 3 B); Nyepi, 1993

MULTIMEDIA: Karya 97, dancers, winds, brass, 10 percussion, tapes, lights, 1996–97 (realization of Karya)

DISCOGRAPHY (as composer)

Taro. (Albany Records: 380) Crosscurrents. Evergreen Club Contemporary Gamelan (Artifact Music: ART-036) Rafting and Beyond. Quartet Piano and Percussion (Audite: Aud 97.455)

Lalangan; Preret; Studie II; Früchte. Peter Veale, oboe; James Avery, H.J. Koch, pianos; Steven Schick, percussion (Edition Pro Viva: ISPV 130) Cina. ExVoCo (Edition Pro Viva: ISPV 146)

Taro; Kammermusik IIIII. Ensemble SurPlus (Edition Zeitklang: EZ 13019) Kebyar. Isabelle Schnöller, flute; Hansjörg Koch, piano (Edition Zeitklang: EZ 15013)

Preret. Peter Veale, oboe; James Avery, piano (Edition Zeitklang: EZ 60008) Orgelzyklus. Heinrich Walther, organ (H.W.-Musik: 1250)

Kammermusik IV. Angelika Luz, soprano; Brad Lubman/Ensemble Modern (neos-music: neos 10821) Surya. Urs Liska, piano (Sound-rel: DRE 90201)

DISCOGRAPHY (as editor)

Zeitgenössische Gamelanmusik auf Bali, Gamelan Gong Kebyar aus Pinda und Sawan in ‘An Anthology of Southeast Asian Music‘. (Bärenreiter-Musicaphon: BM 30 SL 2575)

Topeng CirebonTarawangsa, Sundanese Music from West Java. (Wergo: SM 1607) Gamelan Semar Pagulingan, Music from Bali. (Wergo: SM 1609)

Semoga kehadiran Dieter Mack yang merupakan seorang Komponist dan Musikethnologe ini, dapat memberikan sumbangsih untuk kelestarian dan pengembangan musik Melayu.

Sementara itu, mengenai peserta yang akan tampil pada 8th RIAU HITAM – PUTIH INTERNATIONAL WORLD MUSIC FESTIVAL 2010 yang berasal dari luar provinsi dan luar negeri, masih dalam proses kurasi oleh kurator . Dan untuk peserta dalam provinsi yang ingin berpartisipasi dapat mengirim kan contah lagu atau karyanya, dalam bentuk CD/ KASET/ MINI DV ke sekretarian MMI di Taman Budaya Riau.

09

02 2010

FORUM PENGGIAT SENI MELAYU RIAU

Malay Music Institute akan menggelar forum silaturahmi dan diskusi seniman melayu riau yang bertajuk “FORUM PENGGIAT SENI MELAYU RIAU”, pada hari senin, tanggal 11 Januari 2010 mendatang. Acara tersebut rencananya akan dilaksanakan di Gedung Olah Seni Taman Budaya Riau jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru.

Tujuan dari pelaksanaan kegiatan adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama seniman dan mendiskusikan berbagai untuk kemajuan seni Melayu Riau kedepan.

Hari Sandra Hasan
Hari Sandra Hasan

“Untuk kemajuan seni Melayu Riau, diperlukan banyak wadah yang mampu menampung aspirasi kawan – kawan pelaku seni dan dengan adanya forum ini, diharap hal itu bisa terakomodir. Namun bukan cuma itu, perlu adanya evaluasi bersama atas apa yang sudah kita lakuakan pada tahun sebelumnya agar apa yang akan dilakukan kedepan dapat dilaksanakan lebih baik lagi” demikian diungkap oleh Hari Sandra Hasan (Direktur MMI) selaku salah seorang penggagas dari forum ini.

Beragam tanggapan yang disampaikan para pelaku seni, melalui situs jejaring sosial namun intinya semua sepakat bahwa forum ini harus dilaksanakan. Semoga kesenian Melayu Riau dapat terus hidup dan berkembang. (mmi)

Berikut beberapa tanggapan memalui FB :

Agoes S. Alam wrote
at 12:01
mantap….kami dukung gerakan mari berbuat jangan banyak cakap, syabas bung hari…kami juga akan usahan hadir dalam pertemuan itu…..
kami membutuh relawan untuk pelaksanaan forum ini, bagi yang berminat, bisa datang ke kantor Malay Music Institute di komplek Taman Budaya Riau setiap hari dan jam kerja. untuk keterangn lebih lanjut bisa menghubungi nomor berikut : kontor MMI 0761 7016227 / sdr. hari 0761 7710719. terima kasih….
Hari Sandra Hasan wrote
at 05:23 on 02 January 2010
@ Kak Sondah : kemajuan seni bukan hanya ditangan seniman saja.. semua pihak punya hak dan kewajiban yang sama. jika ada waktu datanglah… makasi ya Kak.
@ Bang Edi & Bang Indera : saya akan akan coba buat agenda yang baik, insyaallah untuk kawan seniman yang dipekanbaru yang tidak punya fb, akan saya undang lewat surat.
Raja Indra Maulana wrote
at 15:02 on 28 December 2009
agenda dan materi pembicaraan hrs jelas jd kite dtg dah ada persiapan, ape dan bgmn nak dicakap cakapkan.
Eddy Ahmad Rm wrote
at 03:53 on 28 December 2009
:Buat agenda yg jelas, sehingga pembibaraan menjadi fokus.
Sondha Siregar wrote
at 20:55 on 27 December 2009
klo hadir.., apa yg bisa saya perbuat ya..? Saya bukan seniman, bukan pula budayawan..
Hari Sandra Hasan wrote
at 19:45 on 25 December 2009
@ emmy : inilah salah satu agenda pembicaraan kita kak… sudah saatnya geliat aktivitas dan kreativitas seni di riau lebih kita tingkatkan lagi dan ini butuh kerjasama semua pihak….
Emmy Kadir wrote
at 14:31 on 25 December 2009
Ape yg ndak kami perbuat pade acare itu kelak Ri, sebab sampai setakat ini saye dan jiran2 yg ade di TBR belum nampak geliatnye dlm berkreativitas. Macam mane tu?..,
Hari Sandra Hasan wrote
at 03:16 on 25 December 2009
Bagi yang berminat hadir dan ingin informasi lebih lanjut, mohon hubungi saya di no 0813 7888 8006…. via SMS or Call… tks
Hari Sandra Hasan wrote
at 03:12 on 25 December 2009
Majukan terus budaya Melayu Kita….

06

01 2010

Kilas Seni Riau Tahun 2009

Riau menjadi pusat perkembangan kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2020 mendatang. Itulah salah satu pilar dari visi Riau 2020 yang begitu indah dan penuh semangat dalam derap langkah kebangkitan Melayu. Semua masyarakat Melayu Riau begitu bersemangat dan kembali termotifasi dengan dicanangkannya visi tersebut oleh pemerintah provinsi Riau.

Tapi itu dulu, dulu waktu visi itu masih hangat dan terus menjadi perbincangan semau komponen masyarakat melayu Riau. Kini, hal itu ternyata hanya akan menjadi selogan dan omongan kedai kopi semata. Berikut adalah kutipan kami, menanyakan hal ini kepada beberapa seniman dan pencinta seni di Pekanbaru melalu media jejaring sosial.

APA PENDAPAT ANDA TENTANG SALAH SATU PILAR VISI RIAU 2020 YAKNI MENJADIKAN RIAU SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN MELAYU DI ASIA TENGGARA DAN SEJAUH MANA MENURUT ANDA PENCAPAIANNYA SAMPAI SAAT INI?

Visi Riau 2020?….. menjadikan Riau sebagai pusat budaya Melayu di Asia Tenggara?… saya rasa itu akan sulit, karena kita masih kurang komitmen dangan hal itu dan banyak langkah yang dilakukan khususnya oleh pemerintah masih kurang terarah dan terfokus…. Menurut saya hal yang terpenting yang perlu dilakukan salah satunya adalah, pemerinta harus memberi ruang yang lebih luas bagi para pelaku seni dan budaya untuk berkarya dangan memperbanyak kantong – kantong aktivitas dan kreativitas seni. “Nofriwiesyah-MMI”

Visi dan misinya sich bagus, tapi belum ada langkah2 yg kongkret dari pemprop riau tuk melaksanakannya, terutama dari segi fisik bangunan yg mencirikan melayu belum tampak adanya gebrakan terhadap bangunan2 swasta yg sdng dibangun.
Seharusnya Pemprop Riau dan Pemko Pekanbaru mewajibkan setiap Bangunan yg akan didirikan harus berarsitekturkan kemelayuan terutama dijalan jalan protokol!!!!!! “Abdul Ghafar”

Maju mundurnya sebuah kebudayaan, tidak tergantung ada atau tidaknya Perda,termasuk Visi Riau 2020. Apa lagi, kemaun politik itu, tidak disertakan dengan kebijakan anggaran dan perobahan paradikma berfikri terhadap pemahaman kebudayaan yang keliru. Kebudyaan berkaitan dengan sikap budaya. Dan itulah yag tak kita miliki selama ini. Gerakan kebudayaan yang kita lakukan selama ini, terjebak terhadap materi atau fisik budaya, yang tingkat pencapaiannya diukur secara kuantitatif. Artinya, semakin banyak aktifitas, maka dinilai majulah kebudayaan itu, meskipun kebun sawit orang yang punya. Ruko orang yang punya. Kehidupan Melayu pun semakin susah. Padahal, gerakan kebudayaan itu, esensinya adalah perobahan cara berfikir dan sikap yang lebih kreatif, dinamis, puturistik. Yang lebih ironis lagi, dalam waktu yang cukup lama, makna gerakan kebudayaan direduksi hanya menyangkut soal kesenian, yg berhubungan degan masa lalu. Dan ketika itu, kritivitaspun terbunuh. Salam…Jgn jadikan Visi Riau 2020, sebagai pembenaran untuk orang sekehandak hati melakukan apa saja, dengan atas nama Melayu. “Edi RM”

agak nya propinsi riau melalalui dinas dan satker terkait lebih konsern dan benar2 memfokus kan program2 nya, agar gaung visi tsb benar2 terasa …selama ini hanya tertuju pada event2 tertentu saja.. “Jack Chandra”

Jutsru aku menilai sebaliknya.Program2 dinas atau satker terjebak kpd kegiatan rutinitas dan seremoni, yg lepas dari spirit Visi Riau itu sendiri.Hampir tidak ada, program-progran kebudayaan yg strategis yg dilakukan, baik cakupan wilayah, maupun kegiatan yg melahirkan pemikiran, dalam konteks merekontruksi konsep-konep pengembangan budaya, dari kebekuan budaya yg kita fahami selama ini.Oleh sebab itu, aku sangat setuju, perlu dilakukan dialog-dialog yg intensif, untuk mencari formulasi yg lebih tepat, sehingga pembangunan kebudayaan Melayu, tidak semata-mata pengulangan-pengulangan yg lahir dari romantisme masa lalu, yag belum tentu relevan dengan samangat kekinian. ” Edi RM”

saya setuju dengan komentar bang Edi, pemerintah seakan – akan hanya menjadikan kebudayaan sebagai alat ceremony belaka dan parahnya karena tuntutan ekonomi, beberapa kalangan seniman dan budayawan malah ikut terjebak dalam keadaan yang buruk ini… kita butuh gerakan pembaharuan yang terarah dan fokus… salam budaya. ” Hari Sandra Hasan”

Dari beberapa kutipan diatas, agaknya dapat kita simpulkan bahwa dalam tahun 2009 yang sesaat lagi akan kita lalui ini, seni yang bermuara pada budaya Melayu Riau tidak mengalami kemajuan sama sekali. Yang ada hanya malah kemunduran dalam segala hal. Lantas apa yang akan terjadi pada tahun 2010 mendatang? hanya kita yang mampu menjawabnya sekarang dan harus sekarang, jika tidak, alamat akan sama atau mungkin akan lebih buruk yang akan terjadi. (ari_mmi)

08

12 2009

Salam Ta’zim

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang di blog Malay Music Institute. Suatu kebahagiaan yang tak tehingga rasanya, Malay Music Institute bisa hadir bersama lembaga dan institute budaya lainnya, dalam memberikan konstribusi yang positif terhadap pekembangan budaya Melayu khususnya dan Kebudayaan Melayu Riau.

Logo MMI

Malay Music Institute yang didirikan pada tahun 2003, merupakan sebuah lembaga konservasi Budaya khas dibidang musik Melayu. Beberapa program kerja yang telah dikerjakan oleh Malay Music Institute antara lain adalah :

  • Riau Hitam – Putih International world music Festival
  • Seminar “TALK SERIES FOR EDOCATIONAL”
  • Klinik dan workshop music
  • dll

Semoga apa yang dilakukan MMI dalam melestarikan, mendokumentasikan, mengembangkan dan mempublikasikan Musik Melayu senantiasa mendapatkan tempat di hati masyarakat Melayu Raya dan yang terpenting adalah dukungan yang terus menerus baik dalam hal materi maupun sumbang saran.

Apabila ada hal yang ingin disampaikan atau ditanyakan, dapat langsung datang atau menghubungi Malay Music Institute di nomor telepon +62 761 7016227.

Akhirnya ucapan terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan kepada semua pihak yang terus dan dengan dedikasi yang tinggi mendendukung Malay Music Institute dalam mewujudkan visi dan misi.

Wassalam,

Malay Music Institute

07

12 2009
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes